Loading…
Tidak jelas siapa yang pertama kali mengedepankan term “core value”. Tapi yang jelas, sejak zaman filsafat klasik Plato dan Aristoteles, bahkan jauh sebelumnya, dialektika tentang nilai menjadi isu penting. Persoalan nilai mengenai baik buruk, sepertinya sampai kapanpun akan tetap relevan. Nilai dan moralitas sampai kiamat akan tetap dipandang sebagai dasar dan tujuan hidup manusia. Bahkan pasca kiamat sekalipun nilai dan moralitas akan menjadi penentu nasib manusia kelak.
Adalah John Dewey (1859-1952) yang mengusung nilai pragmatisme dalam pendidikan. Ia percaya bahwa pendidikan tidak hanya sekadar transfer ilmu pengetahuan tetapi juga pentingnya mentransfer nilai-nilai, utamanya karakter sosial. Jangan salah, jauh sebelumnya sejak Abad ke-7 Tradisi Pendidikan Islam pun sesungguhnya telah meletakkan dasar-dasar pendidikan berbasis nilai. Alasannya sederhana sekali, bahwa misi utama kenabian adalah menyempurnakan akhlak (buistu liutammi mamakarimal akhlak). Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa sungguh dalam diri Nabi Muhammad terdapat contoh karakter yang agung (QS. Al-Ahzab/35: 21).
Belakangan, istilah core value ini justru dipopulerkan dan menjadi jargon Aparatur Sipil Negara (ASN). Melalui tagline BerAKHLAK (Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif). Apa hasilnya? Kita tidak sedang menilai. Tapi inikan harapan yang ingin diwujudkan, soal hasilnya nanti saja.
Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara sebagai sebuah lembaga pendidikan yang memiliki gagasan Sekolah Islam Masa Depan, telah mengusung core value, namanya MUMTAZ. Secara etimologi bermakna unggul, istimewa, atau sangat baik. Di kampus-kampus Timur Tengah, Mumtaz adalah sebuah predikat yang diberikan kepada yang mendapat nilai A atau Cum laude. Tetapi bagi Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara MUMTAZ adalah sebuah akronim dari nilai-nilai dasar yang dianut dalam rangka pengembangan lembaga ini menuju pusat keunggulan sekolah Islam masa depan. Berikut penjelasannya:
M yang pertama adalah Muslim Visionary. Maksudnya Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara menginginkan agar lulusannya menjadi seorang muslim yang visioner. Titik tekannya sebenarnya pada kata muslim. Adapun visioner adalah sifat yang mengikuti setelahnya. Sejak awal visi pendirian Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara telah menetapkan visi: “Menjadi Muslim Intelektual yang Istikamah pada Al-Qur’an dan Sunnah”. Menjadi muslim seutuhnya bukan perkara enteng, di atas kertas, kalau tidak ingin mengatakan di KTP, populasi muslim di dunia saat ini sudah lebih 2 miliar, Indonesia mungkin salah satu negara dengan penganut agama Islam terbesar, tetapi apakah jumlah yang besar itu sepenuhnya menjiwai ruh Islam yang dimaksud sehingga benar-benar mereka berhak menyandang gelar muslim seutuhnya? Belum tentu. Inilah sesungguhnya yang menjadi perhatian penting Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera. Tidak selesai sampai di sini, setelah predikat muslim diperoleh, muslim tersebut harus memiliki pandangan jauh ke depan. Pandangan tersebut diwujudkan dari kontribusi dan karya nyata yang kemudian dihasilkan.
U yang kedua adalah Universal Minded, maksudnya berpikir universal. Stakeholder Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara harus berpikir global. Tidak, sempit, rigid, cetek, dan praktis. Boleh saja melestarikan kearifan lokal, tetapi wawasannya harus global. Saya jadi teringat sebuah adagium yang menyatakan: “Think globally, act locally”. Perwujudan ini nyata dilakukan dengan pendekatan kebahasaan yang diadopsi seperti yang lazim dilakukan di pesantren yakni menciptakan ekosistem Bahasa Arab dan Inggris. Bahasa Arab tentu sangat melekat dengan dimensi teologis sebagai bahasa ibu umat Islam. Sementara bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang saat ini disepakati. Pada saat yang sama, Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara tetap melestarikan budaya lokal, adat istiadat dan tradisi Islam. Melalui momentum perayaan hari-hari besar Islam dan hari besar nasional, tradisi baik ini tidak pernah ditinggalkan.
M yang ketiga adalah Master of Excellence atau ahli dalam keunggulan. Dalam kaitannya dengan pengembangan lembaga pendidikan, Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara menginginkan agar apa yang telah dibangun selama ini menjadi panutan dalam kualitas, baik akademik, manajerial, maupun moral. Pada saat yang sama, tetap konsisten mempertahankan dan mengejar keunggulan serta membangun budaya mutu. Artinya, keunggulan adalah sebuah keniscayaan dan menjadi nilai inti dalam sebuah institusi. Akhirnya, keunggulan tersebut dapat dilihat dari kualitas input peserta didik, kualitas guru, sistem pembelajaran, mutu lulusan, dan kecenderungan terhadap nilai-nilai Islam.
T yang keempat adalah Trust Builder. Maksudnya adalah penting bagi Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara membangun kepercayaan. Sebab kepercayaan merupakan fondasi awal dalam rangka mengukuhkan eksistensi. Tingginya kepercayaan publik terhadap suatu lembaga pendidikan akan secara otomatis membangun kredibilitas. Karenanya penting bagi pimpinan, guru dan staf manajerial menjaga kepercayaan tersebut. Kadang kala, membangun kepercayaan tidak semudah mempertahankannya. Artinya, kepercayaan yang dimaksud harus terus dijaga. Satu hal yang dapat dilakukan dalam rangka membangun kepercayaan adalah transparansi pertanggungjawaban kepada orang tua atau wali murid. Dalam hal ini, Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara telah membuat program Showcase dalam bidang Bahasa (Arab dan Inggris), tahfiz Al-Qur’an dan tadabbur ayat, dan pameran hasil projek masing-masing mata pelajaran. Apa yang dilakukan ini bertujuan tidak hanya untuk memberitahukan kepada orang tua tentang tumbuh kembang intelektual anak, tetapi pada saat yang sama, sesungguhnya merupakan bentuk transparansi terhadap dana pendidikan yang telah dikeluarkan orang tua, hasilnya sekurang-kurangnya dapat dilihat melalui kegiatan Showcase tersebut.
A yang kelima adalah Active Contributor. Maksudnya adalah aktif memberikan kontribusi, tidak tunggu diminta, inisiatif datang sendiri. Sewaktu diminta bergabung menjadi penasehat akademik bidang kurikulum dan publikasi ilmiah, di antara tugas yang saya adalah memastikan ketersediaan naskah buletin Jumat. Sebelum saya tanya, dalam hati saya menerka-nerka. Apa masih ada lagi sekarang yang mau baca selebaran buletin Jumat? Di tengah platform digital yang sangat praktis, sekarang ini banyak tulisan-tulisan bagus yang bisa dibaca melalui layar smartphone dan dikendalikan hanya dari ujung jari saja. Sebelum ini benar-benar saya tanyakan, Direktur mengatakan: “Buletin Jumat itu udah lama hilang, kita coba hidupkan lagi, manfaatnya kalaupun kecil tapi nyata”. Jawaban ini membuktikan konkretisasi core value Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara sebagai lembaga pendidikan Islam yang aktif berkontribusi, sekalipun dalam bentuk hal yang sangat sederhana. Buletin Jumattidak hanya menyumbang literasi keislaman, tetapi juga memperkokoh eksistensi lembaga, sekaligus iklan yang mampu menyentuh akar rumput.
Z yang terakhir adalah Zeal for Change atau semangat untuk berubah adalah core value yang juga sangat penting. Sikap dinamis harus dimiliki oleh setiap lembaga pendidikan. Keinginan untuk senantiasa berubah adalah sebuah keniscayaan, sebab zaman ini pun terus bergerak maju. Peradaban pun sebenarnya demikian, semakin hari semakin canggih. Dalam hal ini, kemampuan adaptasi tentu sangat diperlukan. Saya melihat dari dekat, bahkan langsung menyentuh ring satu Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara, setidaknya untuk hari Senin pada saat rapat manajerial saya tahu kejadian dari mulai hal kecil sampai yang paling urgen. Saya melihat, bahwa sering kali Direktur membuat kebijakan baru, yang sebelumnya tidak pernah ada. Ambil contoh misalnya: showcase, weekly test, assessment bahasa Inggris bagi semua guru, tahfiz Al-Qur’an plus tadabbur ayat, evaluasi melalui program “lauk bicara”, dan masih banyak lagi. Saya sering heran, dari mana ide itu ? jangan-jangan beliau dapat ide barusan saja, ketika mau berangkat dari rumah, di dalam mobil, atau sambil jalan menuju ruang rapat. Tapi yang jelas sangat dinamis.
Memang, dalam isu terbaru manajemen pendidikan, karakter pemimpin yang diharapkan adalah mempunyai sifat dinamis. Tetapi yang juga tidak perlu dilupakan adalah bagaimana prinsip sustainable atau kontinuitas terhadap kebijakan lama. Artinya, gagasan baru boleh diterapkan dengan tidak meninggalkan kebijakan lama. Kebijakan lama inipun harus dilihat dulu proses, output dan outcome-nya. Saya pikir ini yang masih belum maksimal. Tetapi dalam kaitannya untuk semangat berubah, hemat saya sudah lebih dari cukup, bahkan cenderung terburu-buru.