Beliau termasuk dari 36 tenaga pengajar Al-Azhar Mesir (Mab’uts) yang kemudian ditempatkan di berbagai lembaga pendidikan Islam yang ada di seluruh Indonesia. Menariknya, untuk di Sumatra Utara, hanya ada tiga lembaga pendidikan Islam yang mendapatkan kehormatan menerima Mab’uts, dan AAIBS menjadi salah satunya.
Kedatangan Syekh Khatib bukan hanya menjadi sebuah kebanggaan bagi keluarga besar AAIBS, namun juga makin menegaskan posisi AAIBS sebagai satu-satunya sekolah Islam terbaik di Sumatra Utara yang benar-benar menerapkan manhaj Azhari secara utuh dengan predikat the real Azhari.
Momentum Berharga
Kehadiran Syekh Khatib di tengah-tengah keluarga besar AAIBS merupakan momentum yang amat berharga. Hadirnya beliau merupakan wujud simbolis yang berarti manhaj Azhari yang diterapkan di AAIBS diakui dan didukung langsung oleh Al-Azhar Kairo. Hal tersebut tentunya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar AAIBS, sebab para santri AAIBS akan mendapatkan pembelajaran langsung dari salah satu ulama Al-Azhar Kairo.
Keberadaan Syekh Khatib di AAIBS tentunya juga akan makin menguatkan visi AAIBS untuk menyiapkan generasi Muslim pemimpin masa depan yang siap menghadapi tantangan global dengan berlandaskan nilai-nilai Islam yang inklusif dan rahmatan lil ‘alamin.
Kesan Pertama Syekh: AAIBS Adalah Rumah Kedua
Saat ditanya dalam wawancara bersama tim pemberitaan AAIBS, Syekh Khatib mengungkapkan rasa bahagianya yang mendalam karena bisa bertugas di Indonesia, khususnya di AAIBS.
“Indonesia itu indah, masyarakatnya beradab, menghormati ilmu, dan semangat mencari ilmu (bahkan) sampai ke Al-Azhar Kairo. Itu membuat saya merasa bahagia berada di sini,” ucapnya.
Sehari selepas beliau tinggal di AAIBS, Syekh Khatib kemudian mendapatkan kesempatan masuk ke beberapa kelas di AAIBS untuk bercengkerama dengan para santri dan membagikan ilmu yang dimilikinya. Dari pengamatan beliau terhadap para santri dan suasana belajar di AAIBS, beliau merasa bahwa AAIBS adalah Ma’had yang sangat mirip dengan Al-Azhar Kairo, sampai-sampai beliau berkata bahwa AAIBS merupakan rumah keduanya dan seakan terasa seperti akan mengajar di rumahnya (negara asalnya) sendiri.
“Saya melihat para santri belajar dengan manhaj Azhari yang sama seperti di Ma’had Al-Azhar Kairo. Buku-bukunya pun sama. Saya merasa seperti akan mengajar di rumah saya sendiri (Mesir). AAIBS adalah rumah kedua saya,” tuturnya dengan bangga.Rencana dan Metode Pengajaran: Interaktif, Ulangi Sampai Paham Dalam tiga tahun ke depan, Syekh Khatib memiliki sejumlah rencana strategis untuk memperkuat pengajaran kurikulum Azhari, Bahasa Arab, dan tahfiz Al-Qur’an di AAIBS. Beliau bertekad menghadirkan metode pengajaran yang menekankan pemahaman dan pengamalan, bukan sekadar hafalan. Beliau menjelaskan bahwa proses belajar akan berlangsung interaktif.
“Saya akan memberikan pembelajaran yang interaktif. Guru dan santri akan saling berkomunikasi. Saya akan bertanya setelah menjelaskan sesuatu kepada mereka untuk memastikan apakah mereka itu paham atau tidak mengerti. Jika sudah paham, saya akan lanjutkan, kalau tidak (belum paham), saya akan ulangi lagi sampai paham. Proses mengulang pelajaran sampai tiga kali, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad saw., hingga para santri benar-benar paham. Jika belum mengerti, saya akan ulangi lagi sampai mereka menguasainya,” papar beliau.
Selain itu, beliau juga akan menerapkan metode motivasi dalam pembelajarannya. Syekh Khatib tidak segan memberikan hadiah kepada santri yang mampu menjawab pertanyaan dengan baik, agar suasana kelas menjadi hidup dan menumbuhkan semangat belajar bagi para santri AAIBS.
Penguatan Tahfiz dan Kajian Keilmuan
Khusus dalam bidang tahfiz, beliau juga akan menggunakan metode talaqqi yang menjadi tradisi khas Al-Azhar. Dalam Jilsat Itqan, beliau juga akan turut serta untuk menguji hafalan, tajwid, dan kelancaran bacaan Al-Qur’an para santri AAIBS.
Selain itu, beliau juga akan aktif mengisi kajian setelah salat dengan materi seputar fiqih, akidah, dan syariah. Syekh Khatib juga berkomitmen untuk menjawab berbagai syubhat dan tuduhan orientalis terhadap Islam, sekaligus mengajarkan cara berdialog dengan argumen ilmiah yang logis agar mampu diterima dengan baik oleh akal sehat.
“Saya ingin para santri memiliki keyakinan yang kokoh dan mampu menjawab keraguan-keraguan tentang kebenaran Islam yang mungkin (bisa) mereka temui di luar sana,” ungkapnya.Kontribusi untuk Para Pendidik AAIBS Tak hanya berfokus pada pembelajaran terhadap santri saja, para pendidik AAIBS pun akan kebagian manfaat langsung dari keberadaan Syekh Khatib. Beliau membuka kesempatan bagi para pendidik AAIBS yang ingin menghafal Al-Qur’an dan meraih sanad qira’ah kepadanya.
“Setelah setoran 30 juz selesai, beliau akan menguji hafalan guru dan memberikan sanadnya. Ini luar biasa karena sanad beliau tersebut bersambung langsung sampai kepada Rasulullah,” terang Ustaz Abdul Yahya Hidayat, Lc., M.A., selaku mutarjim dalam wawancara ini.
Dalam wawancaranya, Syekh Khatib menunjukkan sikap kerendahan hatinya sebagai seorang ulama. Beliau menegaskan bahwa dirinya bukanlah seorang guru yang berada di atas guru-guru yang ada di AAIBS, melainkan sebagai saudara bagi para guru di AAIBS.
“Saya dengan guru-guru di sini itu saudara, bukan saya seorang gurunya. Nanti kalau mereka (para pendidik AAIBS) ada kurang jelas dengan manhaj yang ada, saya akan menjelaskan sesuai dengan metode Azhari yang ada. Jika ada guru yang kesulitan memahami balaghah, hadis, atau nahwu, saya akan membantu menjelaskan sesuai metode Al-Azhar,” ujar Syekh.Penekanan pada Adab dan Amal Ilmu Bagi Syekh Khatib, pendidikan bukan hanya soal kecerdasan intelektual semata, namun juga soal pembentukan karakter. Beliau ingin nantinya para santri AAIBS dapat mengamalkan ilmu yang telah mereka pelajari darinya.
“Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. Saya ingin mereka praktik langsung, misalnya wudhu, sampai benar. Setelah itu baru dijelaskan ilmunya, lalu diamalkan lagi dengan benar,” tuturnya.Beliau berpesan agar para santri AAIBS dapat menjadi insan Azhari dan Azhariyah yang Hakiki – seorang muslim dengan akidah yang lurus, beramal ikhlas, dan berkarakter moderat. Sebab menurutnya yang dapat menjadi insan Azhari itu tidak terbatas pada orang Mesir saja, melainkan seluruh orang yang benar-benar mempelajari manhaj Azhari mereka adalah Azhari hakiki.
“Adab di atas ilmu. Bertakwalah kepada Allah SWT., belajar karena Allah, bukan karena dunia atau popularitas,” nasihatnya.
Ia juga mengingatkan akan pentingnya berdoa untuk negeri ini agar senantiasa dalam keadaan yang aman dan damai, karena tanpa keamanan ilmu tak akan berkembang dan kegiatan belajar mengajar pun tak akan berjalan.
“Jangan lupa mendoakan guru-guru dan Grand Syekh Al-Azhar agar kita semua mendapat keberkahan ilmu,” tambahnya.Selain itu, tak luput beliau juga berpesan agar para santri AAIBS untuk bersikap tawadu, rendah hati, jangan sombong, dan tidak terlalu mencintai dunia selama menjalani proses pembelajaran maupun pada saat pengamalan ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya. AAIBS: Satu-satunya Sekolah dengan Manhaj Azhari Seutuhnya di Sumut Kehadiran Syekh Khatib makin menegaskan identitas AAIBS sebagai satu-satunya sekolah Islam dengan kurikulum Azhari yang murni di Sumatra Utara. Buku, metode, dan manhajnya identik dengan yang diterapkan di Al-Azhar Mesir. Hal tersebut jugalah yang menjadi alasan mengapa AAIBS menjadi sekolah Islam terbaik di Sumatra Utara dengan predikat “the real Azhari”. Dengan kehadiran Mab’uts Mesir, kualitas pendidikan Islam dan pembelajaran Azhari di AAIBS menjadi lebih kuat. Hal tersebut akan sangat berdampak positif bagi lahirnya insan Azhari dan Azhariyah AAIBS yang tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga matang dalam aspek spiritual dan karakter.
(Source: Kemenag RI)
Kedatangan Mab’uts Mesir di AAIBS adalah momentum penting yang menandai babak baru perjalanan sekolah ini. Bagi para santri, momentum ini merupakan kesempatan emas untuk mereka dapat belajar langsung dari ulama Al-Azhar. Bagi para guru, ini adalah peluang besar bagi mereka untuk meningkatkan kualitas diri hingga mendapatkan sanad keilmuan yang tersambung langsung kepada ulama Al-Azhar Kairo.
(Source: Kemenag RI)
AAIBS berharap bahwa tiga tahun ke depan akan menjadi periode emas bagi AAIBS dalam mencetak generasi Muslim yang siap menjadi pemimpin umat, membawa nilai-nilai Islam yang damai, dan menjadi cahaya kebaikan di tengah masyarakat. Hadirnya Syekh Khatib jangan sampai kita sia-siakan begitu saja, sebab tidak semua sekolah mendapat kehormatan untuk mendapatkan pembelajaran langsung dari ulama Al-Azhar Kairo. Dengan kehadiran beliau, diharapkan akan membuat AAIBS makin mantap menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan generasi pemimpin masa depan yang berilmu, beradab, dan siap membawa cahaya moderasi Islam di Sumatra Utara, Indonesia, bahkan dunia.